SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT BARAT DAN TIMUR
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Konsepsi – konsepsi tentang
kehidupan dan dunia yang kita sebut “filosofis” dihasilkan oleh dua faktor; pertama,
konsepsi – konsepsi religious dan etsis warisan; kedua, semacam
penelitian yang bisa disebut “ilmiah”.
Filsafat,
yang berbeda dari teologi, dimulai dari Yunani pada abad ke 6 SM. Setelah
memasuki zaman kuno, filsafat kembali ditenggelamkan oleh teologi ketika agama
Kristen bangkit dan Roma jatuh. Periode kejayaan filsafat yang kedua, abad ke
11 – 14, didominasi oleh gereja Katolik,kecuali selama beberapa pemberontak
besar seperti Kaisar Frederick II (1195 – 1250). Periode ini diakhiri dengan
kebingungan – kebingungan yang berpuncak pada Reformasi. Periode ketiga, dari
abad ke 17 sampai sekarang, didominasi melebihi dua periode sebelumnya, oleh
sains; kepercayaan – kepercayaan religious tradisional masih tetap penting,
tetapi rasanya membutuhkan justifikasi, dan dimodifasi ketika sains
mengharuskannya.
Sementara
itu, Filsafat
Timur berkembang di Asia, khususnya di India, Tiongkok, dan daerah-daerah lain
yang pernah dipengaruhi budayanya. Sebuah ciri khas filsafat timur ialah
dekatnya hubungan filsafat dengan agama. Meskipun hal ini kurang lebih juga bisa
dikatakan untuk filsafat barat, terutama di Abad Pertengahan, tetapi di Dunia
Barat filsafat ’an sich’ masih lebih menonjol daripada agama. Nama – nama
beberapa filosof: Lao Tse, Kong Hu Cu, Zhuang Zi, dan lain-lain.Pemikiran
filsafat timur sering dianggap sebagai pemikiran yang tidak rasional, tidak
sistematis, dan tidak kritis. Hal ini disebabkan pemikiran timur lebih dianggap
agama dibanding filsafat. Pemikiran timur tidak menampilkan sistematika seperti
dalam filsafat barat. Misalnya dalam pemikiran Cina sistematikanya berdasarkan
pada konstrusksi kronologis mulai dari penciptaan alam hingga meninggalnya
manusia dijalin secara runut (Takwin, 2001: 12). Belakangan ini, beberapa
intelektual barat telah beralih ke filsafat timur, misalnya Fritjop Capra,
seorang ahli fisika yang mendalami taoisme, untuk membangun kembali bangunan
ilmu pengetahuan yang sudah terlanjur dirongrong oleh relativisme dan
skeptisisme (Bagir, 2005: 6). Skeptisisme terhadap metafisika dan filsafat rene
Descartes dan William Ockham.
B.
RUMUSAN
MASALAH
Adapun rumusan masalah dari makalah ini, yaitu :
1.
Bagaimana sejarah filsafat pada Abad Yunani Klasik?
2.
Bagaimana sejarah filsafat pada Abad Pertengahan?
3.
Bagaimana sejarah filsafat pada Abad Modern?
4.
Bagaimana sejarah filsafat pada Abad Kontemporer?
5. Bagaimana sejarah filsafat yang
berasal dari India?
6. Bagaimana sejarah filsafat yang
berasal dari Cina?
7. Bagaimana sejarah filsafat yang
berasal dari pandangan Islam?
C.
TUJUAN
Adapun tujuan yang merupakan
penjabaran dari rumusan masalah yang hendak dicapai, yaitu :
1.
Mengetahui sejarah filsafat pada Abad Yunani Klasik
2.
Mengetahui sejarah filsafat pada Abad Pertengahan
3.
Mengetahui sejarah filsafat pada Abad Modern
4.
Mengetahui sejarah filsafat pada Abad Kontemporer
5. Mengetahui sejarah filsafat yang berasal
dari India.
6. Mengetahui sejarah filsafat yang
berasal dari Cina.
7. Mengetahui sejarah filsafat dari
pandangan Islam.
BAB
II
ISI
A.
SEJARAH
PERKEMBANGAN FILSAFAT BARAT
Perkembangan filsfat Barat secara umum terdiri atas empat periode, diantaranya :
1.
Filsafat
Yunani Klasik
Filsafat ini bermula pada abad ke 6 SM atau sekitar 600
tahun sebelum lahirnya Yesus Kristus di dunia ini sampai abad ke 6 M. Filsafat
Yunani awalnya dipengaruhi oleh mitologi Yunanidan peradaban tetangganya, Mesir
dan Babilonia atau Irak sekarang ini. Kedua bangsa tersebut merupakan tempat
dimana Nabi – Nabi berdakwah dan menyebarkan ajarannya. Sebelum trio filsuf
Yunani yang paling terkenal (Socrates, Plato, dan Aristoteles), telah ada
filsuf alam Yunani yang terkenal. Dikatakan filsuf alam karena studi filsafat
mereka membahas tentang apa unsur utama (akhe) yang menyusun alam semesta.
Thales mengatakan air, Anaximandros mengatakan sesuatu yang nonfisik dan tak
terbatas, sementara Anaximenes mengatakannya udara. Kemudian setelah filsuf
alam, lahirlah filsuf yang membahas tentang ilmu pasti dan matematika seperti
Phytagoras, Herakleitus dan Parmenides.
2.
Filsafat
Abad Pertengahan
Filsafat ini bermula pada abad ke 6 sampai abad ke 16 M. Filsafat Baratpada pasca kelahiran Yesus Kristus ini ditandai dengan
berpadunya filsafat dan agama, dimana adaanya keharusan untuk menyesuaikan filsafat dengan ajaran
agama. Sayangnya, ajaran
filsafat yang bertentangan dan doktrin gereja diberangus bahkan filsif yang
mengeluarkan ajaran tersebut dihukum mati. Hal itu bisa kita dapati dari
peristiwa matinya Copernicus dan Galileo yang mengeluarkan teori yang
bertentangan dengan doktrin gereja. Filsafat pada abad – abad ini juga
disebutsebagai abad kegelapan filsafat. Filsafat Barat mengalami stagnansi atau
keterhambatan.
Di abad kegelapan filsafat ini, hanya yang berhasil
memadukan filsafat dan agama lah yang berhasil bertahan dan diakui ajarannya. Salah
satufilsuf tersebut adalah Thomas Aquinas dengan teorinya yang paling terkenal
yaitu lima argumentasi pembuktian keberadaan Tuhan.Thomas tanpa ragu – ragu
mengambil pemikiran filsafat Aristoteles sebagai dasar berfilsafat.
3.
Filsafat
Abad Modern
Filsafat ini berawal dari abad ke 17 hingga abad ke 19 M. Filsafat AbadModern didahului oleh pergerakan filsufyang menentang
dominasi gereja pada pertengahan abad ke 16. Lahirlah gerakan Renaissance di Italiadan
dimatangkan oleh gerakan Aufklarung di Jerman. Intinya, Eropa berada pada
zaman pencerahan dan menyebabkan peradaban dan kebudayaan modern berkembang dengan pesat. Ada dua hal yang sangat penting pada zaman ini,
yaitu semakin
berkurangnya kekuasaan gereja dan semakin bertambahnya kekuasaan IPTEKS. Disinilah berawal istilah sekularisasi atau
pemisahan kewenangan antara keilmuan atau sains (materi) dan agama (non materi)
sekularisme inilah yang membawa filsafat Barat pada perkembangan dan penyebaran
yang sangat pesat. Hal ini terbukti dengan banyaknya lahir filsuf – filsuf baru
pada zaman ini, diantaranya; Rene Descartes
(Rasionalisme), David Hume (Empirisme), Immanuel Kant (Kritisisme), Fichte (Idealisme), Auguste Comte (Positivisme),Karl Marx (Marxisme), dan lainnya.
4.
Filsafat
Kontemporer
Filsafat ini biasa juga disebut dengan filsafat
postmodernisme (setelahmodern) dimulai sejak abad ke 20 hingga abad ke 21
(sekarang). Filsuf pada zaman ini melahirkan paham – paham baru, diantaranya
yaitu :
·
Fenomenologi adalah ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak (phainomenon)
·
Eksistensialisme adalah metode yang menekankan pada peranan individu
·
Strukturalisme adalah metode yang
digunakan untuk mempelajari ilmu – ilmu kemanusiaan dengan bertitik tolak dari
prinsip linguistik.
·
Pragmatisme merupakan suatu sikap, metode dan filsafat yang memakai
akibat praktis dan pikiran dan kepercayaan sebagai ukuran untuk menetapkan
nilai kebenaran.
·
Postmodernisme merupakan reaksi terhadap kegagalan modernism yang hanya
berpusat pada epistemology yang bersandar pada gagasan tentang subyektivitas
dan obyektivitas murni yang satu sama lain terpisah tak saling berkaitan.
Pada abad ini pula, para filsuf kemudian
mengkhususkan diri pada obyek kajian filsafat tertentu. Di sisi lain, para
filsuf tersebut mengumumkan atau mengeneralisasi gerakan mereka ke dalam bentuk
komunitas tertentu. Perbedaan paling mencolok pada filsafat zaman ini adalah
banyaknya beredar jurnal filsafat (kumpulan beberapa tulisan oleh penulis
berbeda). Para filsuf zaman ini, diantaranya adalah Edmun Husserls, Henri
Bergson, Ernst Cassirer, Bertrand Russell, Thomas Kuhn, Martin Heidegger, Jean
Paul Sartre, Jurgen Habermas, dan lainnya.
B.
SEJARAH
PERKEMBANGAN FILSAFAT TIMUR
1.
Filsafat India
Filsafat India mengusung keyakinan
akan kesatuan fundamental antara manusia (individu) dengan alam (kosmos).
Dengan demikian, tidaklah mustahil jika filsafat India bisa menjadi solusi bagi
krisis spiritual dan alam saat ini. Menurut filsafat India, harmoni yang
terjalin akan mengantarkan seseorang menjadi waskita (arif bijaksana) terhadap
hidup. Tidak terasing dari kehidupan dunia (alam semesta) dan mampu
beramah-tamah dengan semua benda di sekelilingnya. Bagaikan bersahabat dengan
gemericiknya air, kesuburan tanah yang menumbuhkan segalanya, dan sinar
matahari yang menghangatkan semesta raya.
Pembagian
Lima Periode Dalam Filsafat India
Berikut
merupakan babakan perkembangan filsafat India yang terjadi selama lima periode
besar itu yakni, zaman Weda, zaman Skeptisisme, zaman Puranis, zaman Muslim,
zaman Modern:
1.
Zaman Weda (2000 - 600 SM)
Filsafat India dimulai sejak bangsa
Arya masuk ke India dari utara sekitar tahun 1500 SM. Literatur suci mereka
disebut Weda, yang terdiri dari Samhita, Brahmana, Aranyaka, dan Upanisad.
Samhita memuat Rigweda (kumpulan pujian-pujian), Samaweda (himne-himne
liturgis), Yajurweda (rumus-rumus korban), dan Artharwaweda (rumus-rumus
magis). Brahmana, Aranyaka, dan Upanisad memuat komentar-komentar pada semua
literatur. Upanisad merupakan yang terpenting dari filsafat India yang
sepanjang sejarah merupakan sumber yang sangat kaya untuk inspirasi dan
pembaharuan. Tema yang menonjol untuk Upanisad adalah ajaran tentang hubungan
Atman dan Brahman. Atman adalah segi subjektif dari kenyataan, “diri” manusia.
Sedangkan Brahman adalah segi objektif, makrokosmos, alam semesta. Upanisad
mengajarkan bahwa Atman dan Brahman memang sama dan bahwa manusia mencapai
keselamatan (moksa, mukti) kalau ia menyadari identitas Atman dan Brahman.
2.
Zaman Skeptisisme (600 SM – 300 M)
Sekitar tahun 600 SM mulai suatu
reaksi baik terhadap ritualisme imam-imam maupun terhadap spekulasi hubungan
dengan korban para rahib. Para imam mengajarkan ketaatan pada kitab suci,
tetapi para rahib mengajarkan suatu metafisika di mana ketaatan ini mengganggu
kebaktian kepada dewa-dewa. Reaksi ini datang dalam berbagai bentuk. Tetapi
yang terpenting diantaranya adalah Buddhisme ajaran dari Gautama Buddha,
yang memberi pedoman praktis untuk mencapai keselamatan dan mengajarkan secara
nyata bagaimana manusia dapat mengurangi pemderitaannya dan bagaimana ia
mencapai terang budi yang membawa keselamatan. Reaksi lain adalah kebaktian
yang lebih eksklusif kepada Siwa dan Wisnu dan juga Jainisme dari Mahawira
Jina. Keduanya merupakan bentuk agama yang menarik daripada ritualisme dan
spekulasi dari imam dan para rahib. Sebagai kontra-reformasi muncullah
Hinduisme resmi enam sekolah ortodoks (disebut ortodoks karena Buddhisme dan
Jainisme yang tidak berdasarkan Weda dianggap bid’ah). Sekolah itu adalah
Saddharsana (Nyaya, Waisesika, Samkhya, Yoga, Purwa-Mimamsa, dan Ynana). Adalah
yang terpenting dari sekolah itu adalah Samkhya (artinya jumlah) dan Yoga (dari
kata “juj”, menghubungkan). Yoga mengajarkan suatu jalan (marga) untuk mencapai
kesatuan dengan ilahi. Samkhya mengajarkan sebagai tema terpenting hubungan
alam-jiwa dan kesadaran-materi.
3.
Zaman Puranis (300 – 1200)
Setelah tahun 300, Buddhisme mulai
lenyap dari India. Pemikiran India dalam abad pertengahan dikuasai oleh
spekulasi teologis, terutama mengenai inkarnasi dewa-dewa. Contoh cerita
tentang inkarnasi dewa-dewa terdapat dalam dua epos besar, Mahabharata dan
Ramayana.
4. Zaman Muslim (1200 – 1757)
Dua nama yang menonjol dalam periode
muslim yaitu Kabir (pengarang syair) yang mencoba mengembangkan suatu agama
universal dan Guru Nanak (pendiri aliran Sikh) yang mencoba menyerasikan Islam
dan Hinduisme.
5. Zaman Modern (setelah 1757)
Zaman modern adalah zaman pengaruh
Inggris di India mulai tahun 1757. Periode ini memperlihatkan kembali
nilai-nilai klasik India, bersama dengan pembaharuan sosial. Nama penting dalam
periode ini adalah Raja Ram Mohan Roy (1772-1833) yang mengajarkan monoteisme
berdasarkan Upanisad dan suatu moral berdasarkan Khotbah di Bukit dari Injil,
Vivekananda (1863-1902) yang mengajarkan semua agama benar tetapi agama Hindu
paling cocok di India, Gandi (1869-1948), dan Rabindranath Tagore (1861-1941)
sang pengarang syair dan penmikir religius yang membuka pintu untuk ide-ide
luar. Sejumlah pemikir India zaman sekarang melihat banyak kemungkinan untuk
dialog antara filsafat Timur dan filsafat Barat. Radhakrishnan (1888-1975)
mengusulkan pembongkaran batas-batas ideologis untuk mencapai suatu sinkretisme
hindu-kristiani, yang dapat berguna sebagai pola berpikir masa depan seluruh
dunia. Pemikir-pemikir lain tidak begitu optimis dengan kemungkinan ini.
Menurut mereka, perbedaan antara corak berpikir Timur dan Barat terlalu besar
untuk mengadakan suatu interaksi, dalam arti “saling melengkapi”. Filsafat
India dapat belajar dari rasionalisme dan positivisme Barat. Filsafat Barat
dapat belajar dari intuisi Timur mengenai kesatuan dalam kosmos dan mengenal
identitas mikrokosmos. Mungkin, filsafat Barat terlalu duniawi sedangkan
filsafat Timur terlalu mistik.
2.
FILSAFAT CINA
Dalam memahami asal mula Filsafat
Cina, ada 3 hal yang perlu diketahui. Pertama, filsafat adalah sebuah
usaha sadar untuk memformulasikan pandangan-pandangan dan nilai-nilai sebagai
ekspresi dari keyakinan fundamental sekelompok orang. Karenanya filsafat tidak
dapat dilepaskan dari latar belakang budaya dan tradisi kelompok
tersebut. Dalam hal ini adalah bahasa, seni, literatur, dan agama. Yang
kedua, filsafat sebagai sebuah aktivitas yang berkelanjutan haruslah
dipandang sebagai sesuatu yang muncul dari aktivitas praktis kehidupan yang
berfokus pada pemecahan masalah tentang pengetahuan yang benar, pemahaman
asali, dan penghargaan yang wajar atas berbagai masalah kehidupan, entah secara
individu ataupun sosial. Yang ketiga adalah lebih berupa
konstruksi-konstruksi teoretis sebagai hasil pemikiran filosofis ataupun
kegiatan kultural dari suatu kelompok orang/masyarakat (Fung Yu-Lian,2007:5) .
Filsafat Cina terbagi menjadi
beberapa bagian, yaitu :
1.
Konfusius
Ulasan yang lebih detail tentang
kehidupaan Confusius adalah biografi yang terangkum dalam bab empat puluh tujuh
Shih Chi atau Historical Records (sejarah dinasti Cina pertama,
lengkap ca. 86 SM). Dari riwayat hidupnya ini, bisa didiperoleh ide bahwa
ajaran-ajaran Konfusius lahir atas keprihatinannya akan situasi sosial dan
politik pada saat itu. Bagi Konfusius kekacauan itu timbul karena Li kehilangan
jiwanya. Untuk menghidupkan kembali Li berarti menghidupkan kembali
ritual dan musik denngan pendasaran pada Ren. Seperti kita ketahui,
Konfusiuslah yang mengambil kitab klasik dinasti Zhou keluar dari tempat
penyimpanannya dan membeberkannya di depan umum. Konfusius pulalah yang
mengubah aneka tata cara dan upacara serta kebiasaan feudal menjadi suatu
sistem etika. Konfusius berjuang tanpa kenal lelah sepanjang hidupnya untuk
membangun dan memelihara suatu masyarakat yang tertib dan teratur dengan terus
menerus menekankan pentingnya hubungan antara manusia atas dasar doktrin ren.
Ren, adalah gagasan sentral dari
Konfusianisme yang juga merupakan kelanjutan yang lebih jernih dari gagasan
yang hidup sebelum jaman Konfusius. Ren bisa dipahami sebagai: kebaikan hati
ataupun kasih antar manusia. Kebaikan ini adalah hakikat terdalam manusia yang
membuat unsur lain (dalam hidupnya) menjadi mungkin. Menurut Konfusius ‘ren’
adalah sesuatu di dalam diri yang membuat seseorang sungguh-sungguh manusia.
Sedangkan Li mengandung arti ‘tatacara dan upacara keagamaan’, tetapi
Konfusianisme memberi arti lebih luas dari pada sekedar ritus dan ritual,
yaitu, segala sesuatu yang terkait pada tindakan tepat manusia, dan Xiao
merujuk pada tindakan antar manusia yang menumbuhkan ‘ren’ yang juga berarti
“hormat bakti yang muda terhadap yang lebih tua”.
2.
Taoisme
Taoisme diajarkan oleh Lao Tse
(“guru tua”) yang hidup sekitar 550 S.M. Lao Tse melawan Konfusius. Menurut Lao
Tse, bukan “jalan manusia” melainkan “jalan alam”-lah yang merupakan Tao. Tao
menurut Lao Tse adalah prinsip kenyataan objektif, substansi abadi yang
bersifat tunggal, mutlak dan tak-ternamai. Ajaran Lao Tse lebih-lebih
metafisika, sedangkan ajaran Konfusius lebih-lebih etika. Puncak metafisika
Taoisme adalah kesadaran bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang Tao (Abu
Ahmad,1975: 157).
3.
Mencius dan Xunzi
Konfusianisme bermula dari ajaran
Konfusius, tetapi kemudian dibangun dan dikembangkan oleh Mencius dan Xunzi.
Seperti Konfusius, Mencius mendasarkan ajarannya pada Ren, tapi ia menyatakan
bahwa untuk membina Ren harus dikembangkan yi atau kebaikan. “Yang disimpan
dalam hati adalah ren, yang dipakai dalam tindakan adalah yi.” Jadi, ren adalah
prinsip tepat untuk mengawasi gerak internal, sedangkan yi adalah cara tepat
untuk membimbing tindak eksternal. Lebih lanjut lagi, Ia menekankan
Sistem Keluarga yang diungkap Confusius; yaitu sistim masyarakat Tionghoa, ada
5 jenis hubungan yaitu Raja-Menteri, Ayah-Anak, Suami-Istri, Kakak-Adik,
teman-teman.
4.
Mohisme
Adapun perbedaan pendapat anatara
konfusianis dan mohis adalah sebagai berikut: Para Konfusianis mementingkan
relasi yang tepat (Lǐ), tanpa memikirkan keberuntungan. Dari segi moral atau
pendirian, para Konfusianis mengutamakan kebenaran dan kemurnian, tanpa
menghitung keberhasilannya. Penganut Mo Tzŭ lebih pragmatis. Mereka
mengutamakan secara khusus keberuntungan (Lì) dan pencapaian (Kung).
Dengan demikian, tolok ukur
kebenaran sebuah prinsip menurut Mo Tzŭ adalah seberapa besar keberuntungan
yang diberikan kepada negara dan rakyat jelata. Segala sesuatu harus berguna,
dan semua prinsip harus bisa diaplikasikan supaya menyumbang sesuatu nilai
secara mandiri. Maka sesuatu prinsip yang tidak bisa diejawantahkan nilainya,
ataupun tidak bisa diajarkan secara efektif kepada manusia lain untuk
mengejawantahkan nilainya, hanya rasio belaka. Tetapi pendirian Mo Tzŭ ini
bertabrakan dengan idealisme Konfusianis, yang mengutamakan pembentukan
moralitas yang mendukung tindakan seseorang, supaya bertindak mengikut apa yang
benar, dan bukan mengikut apa yang lebih memanfaatkan.
5.
Daoisme
Lao Zi dan pengikutnya menduga bahwa
ada yang salah dalam hakekat masyarakat dan peradabannya. Mereka menganjurkan
rakyat Cina untuk membuang semua pranata dan konvensi yang ada. Mereka percaya
bahwa manusia yang dulu mempunyai suatu surga kemudian hilang karena
kekeliruannya sendiri, yaitu karna ia mengembangkan peradaban. Menurut Lao Zi
dan pengikut pengikutnya, cara terbaik untuk hidup adalah menarik diri
dari peradaban dan kembali kepada alam, dari keadaan beradab ke keadaan alami.
Inilah jalur pemikiran naturalistic yang dikenal sebagai Daoisme yang
menjunjung tinggi Dao dan alam.
Chuang Tzu memandang Dao sebagai
totalitas dari spontanitas segala sesuatu di alam semesta ini. Semua hal harus
dibiarkan berkembang sendiri, secara alami dan spontan, Akan tetapi Yang Tzu
berpendapat bahwa Dao adalah suatu kekuatan fisis yang buta. Dao menghasilkan
dunia tidak atas dasar perencanaan atau kehendak, tetapi atas dasar keniscayaan
atau kebetulan. Pendapat ini merupakan pendapat yang mewakili kaum
materialistic Daoisme. Apapun perbedaannya, ajaran ajaran mereka menekankan
bahwa manusia harus cocok dan serasi dengan kodratnya dan puas dengan apa
adanya
6.
Neo Konfusianisme
Neo-Konfusianisme adalah bentuk Konfusianisme yang terutama dikembangkan selama Dinasti Song, tetapi aliran ini mulai nampak ke
permukaan sudah sejak zaman dinasti Tang lewat Han Yu dan Li ao. Mereka
membuka cakrawala baru Neo-Konfusianisme, yaitu dimensi kosmologis dalam
refleksi mereka. Zhou Dunyi merupakan tokoh yang tak boleh dilupakan. Kosmologi
Zhou Dunyi merupakan pengembangan butir-butir ajaran Apendiks dari Kitab Yi
Jing dan dia memakai diagram daois untuk ilustrasi dan membentuk ‘Tai Ji Tu dan
Tai JI Shuo-nya. Selain Zhou Dunyi masih ada Shao Yong (kosmologis lain yang
mengembangkan ajarannya berdasar juga Apendiks dari Kitab Yi Jing. Bedanya dengan
Zhuo dia memakai 64 hexagram Yi Jing). Sementara Zhang Zhai (kosmologis lain
yang juga mengembangkan ajarannya berdasar juga Apendiks dari Kitab Yi Jing.
Namun dia menekankankan dan mengolah lebih jaug gagasan Qi). Mewarisi
‘ke-satu-an’ dari segala dari Zhang Cai, itu yang dikembangkan Cheng Hao
menjadi filsafatnya. Ren = rangkuman dari: Yi, Li, Zhi dan Xin, pahami itu dan
tempa-tumbuhkan dengan ketulusan dan kecermatan, itulah segalanya. Secara
metafisis ada kesatuan antara semua yang ada. Gagasan tersebut kemudian
dikembangkan lebih lanjut oleh Lu Jiuyuan dan Wang Yangming yang pada akhirnya
membentuk sekolah Lu wang (Fung Yu-Lian,2007:54-56).
3.
Filsafat Islam
Islam berasal dari kata salam
yang terutama berarti “damai” dan juga berarti “menyerahkan diri”, maka
keseluruhan pengertian yang dikandung nama ini adalah “kedamaian sempurna yang
terwujud jika hidup seseorang diserahkan kepada Allah”. Kata sifat yang
berkenaan dengan ini adalah Muslim (Huston, 2004:254).
Filsafat Islam digolongkan ke dalam
filsafat timur karena lebih dominan sifatnya yang menunjukkan idealisme seperti
umumnya filsafat-filsafat yang muncul di dunia timur, seperti Cina dan India.
Filsafat timur ini yang memiliki aliran idealisme utamanya bercirikan bersifat
spiritual, esensinya adalah dengan berfikir. Juhaya (2008:125) mengungkapkan
bahwa kata idealis itu dapat mengandung beberapa pengertian, antara
lain:
·
Seseorang yang menerima ukuran moral yang tinggi, estetika,
dan agama serta menghayatinya.
·
Orang yang dapat melukiskan dan menganjurkan suatu rencana
atau program yang belum ada.
Memang pada filsafat-filsafat yang
lahir di dunia timur, kebanyakan lebih mengutamakan sisi spiritual, dalam arti
nilai-nilai keagamaan memang kerap mewarnai prinsip-prinsip dalam filsafat
timur. Dalam prinsip filsafat timur ini pada perilaku manusia adalah digerakkan
oleh nilai dan norma sehingga manusia memiliki tujuan dalam bertingkah laku.
Begitu juga filsafat yang lahir dari pemikir-pemikir Islam yang lebih
menekankan pandangannya mengenai dunia dengan berlandaskan pada nilai-nilai dan
norma-norma yang harus ditaati oleh manusia. Filsafat Islam adalah berfikir
secara sistematis, radikal dan universal tentang hekekat segala sesuatu
berdasarkan ajaran Islam. Singkatnya filsafat Islam itu adalah Filsafat yang
berorientasi kepada Al Qur’an, mencari jawaban mengenai masalah-masalah asasi
berdasarkan wahyu Allah.
Pada masa pemerintahan Harun
al-Rasyid naik tahta tahun 786 M, buku-buku pengetahuan Yunani banyak
diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Orang-orang dikirim ke Romawi di Eropa
untuk membeli manuskrip. Pada mulanya penerjemah diutamakan dalam bidang ilmu
kedokteran, tetapi kemudian ilmu pengetahuan lain dan filsafat pun
diterjemahkan ke dalam bahasa Siriac, bahasa ilmu pengetahuan Mesopotamia waktu
itu, kemudian baru dalam bahasa Arab. Tapi akhirnya diadakan penerjemahan
langsung dalam bahasa Arab. Melalui kegiatan penerjemahan inilah sebagian besar
karya Aristoteles, beberapa karangan Plato serta karangan-karangan mengenai
neo-platoisme, Galen dan karangan di bidang kedokteran serta ilmu pengetahuan
Yunani lainnya dapat dibaca oleh alim ulama Islam. Karangan di bidang filsafat
banyak menarik perhatian Mu’tazilah sehingga mereka banyak dipengaruhi oleh
pemujaan daya akal yang terdapat dalam filsafat Yunani. (Juhaya, 2008:194-195).
Kemajuan Islam era pertengahan tidak saja mewarisi pengetahuan Yunani-Romawi,
akan tetapi telah memodifikasi dan menyempurnakan pengetahuan sebelumnya. Hal
ini dibuktikan dengan hasil usaha kreatif cendikiawan muslim seperti al-Kindi,
Ibn Sina, al-Farabi, al-Razi dan setelahnya, selain mengadopsi kekayaan
pengetahuan mereka, juga melahirkan teori dan pengetahuan orisinil yang sama
sekali baru. Peradaban Yunani, Persia dan Romawi jelas menyumbangkan peradaban
yang sangat berharga bagi Islam. Peradaban Zoroastrian (Sassanian) telah mencapai
puncak renaisan kebudayaannya pada abad ke enam, sebelum Islam datang di tanah
Arab. Hal ini yang kemudian menjadi pembawa obor bagi peradaban Barat,
bersama-sama membawa sebuah sinkronisme kreatif baru pemikiran ilmiah dan
filosofis Yunani, Hebrew, India (Hindu), Syirian, dan Zoroaster.
Mengenai kebangkitan bangsa Arab
tersebut dengan agama Islamnya, Huston Smith (2004:254-255) mengutip juga dari
Philip Hitti yang menyatakan sekitar nama orang Arab bersinarlah lingkaran
cahaya dari kegemilangan yang dimiliki oleh para penakluk dunia. Dalam waktu
satu abad setelah bangsa ini muncul, mereka telah menjadi tuan dari suatu
daerah kekuasaan yang terbentang dari pantai Samudra Atlantik sampai ke
perbatasan Cina, yang merupakan suatu daerah kekuasaan yang lebih besar dari
kekaisaran Romawi pada zaman puncak kejayaannya. Dalam masa perluasan wilayah
yang luar biasa ini mereka “merangkul berbagai unsure asing ke dalam
kepercayaan, bahasa dan bahkan bentuk fisik mereka, lebih daripada yang pernah
atau sesudahnya, tidak terkecuali orang Yunani, Romawi, Anglo-Sakson, atau
Rusia”. Tentu saja periode yang dimaksud dalam kutipan tersebut adalah saat
pemerintahan Harun al-Rasyid.
Filsafat Islam
memiliki karakteristik sekaligus sebagai keunikan tersendiri. Setidaknya, terdapat
tiga karakteristik yang dapat kita temukan dalam khazanah ini, yaitu
peripatetisme (Masysya’iyyah), iluminasi (Israqiyyah) dan teosofi
transenden (al-hikmah al-muta’aliyah). Ketiga karakteristik tersebut
sudah sering dikaji oleh para sarjana muslim.
Filsafat
peripatetisme adalah paham kelanjutan dari pengaruh ide-ide
Aristotelian yang bersifat diskursif-demontrasional. Corak dari Aristotelian
yaitu hylomorfisme, suatu paham yang cenderung bersifat material.
Peripatetisme dimulai sejak al-Kindi, yang melewati antara lain, al-Farabi, Ibn
Sina, Ibn Thufail dan Ibn Bajjah hingga Ibn Rusyd. Mungkin, hanya Ibn Rusyd
saja yang agak berani membersihkan Aristotelianisme dari Neo-Platonisme.
Filsafat
iluminasi (Israqiyyah) berbicara mengenai suatu
kilatan-mendadak dalam bentuk pemahaman atau ilham sebagai suatu arus cahaya.
Asal mulanya, teori ini berakar dari pola-pola Platonik, yang selama periode
Hellenistik dan Romawi aliran ini diserap dan tergabungkan dalam pikiran
Kristiani dan Yahudi. Tokoh yang ternama dalam corak filsafat iluminasi yaitu
Surawardi. Sebagai pencetus paham iluminasi, dia telah membuka jalan suatu
dialog dengan wacana-wacana dan upaya-upaya religius atau mistis dalam dunia
ilmiah. Dia juga termasuk filosof yang meyakini adanya perennial wisdom.
Sebuah jalan kebenaran yang dijadikan ukuran adalah pengalaman “intuitif” yang
kemudian mengelaborasi dan memverifikasinya secara logis-rasional.
Sementara filsafat
hikmah di perkenalkan oleh Mulla Shadra. Dia membangun aliran baru
filsafat dengan semangat untuk mempertemukan berbagai aliran pemikiran yang
berkembang di kalangan kaum muslim. Yakni tradisi Aristotelian cum Neo
platonis yang diwakili figur-figur al-Farabi dan Ibn Sina, filsafat Israqiyyah,
pemikiran Irfani Ibn ‘Arabi, serta tradisi kalam (teologi dialektis).
Filsafat hikmah cenderung berbicara masalah esensi (wujud), sehingga sering
disebut-sebut sebagai eksistensialisme Islam. Aliran ini mempercayai bahwa
pengetahuan diperoleh tidak melalui penalaran rasional, tetapi hanya melalui
sejenis intuisi, yakni penyaksian bathin (syuhud, inner witnessing),
cita rasa (dzauq, tasting), pencerahan (hudhur, presence) (Haidar
Bagir dalam Mujtahid, 2011:uin-malang.ac.id). Begitulah perkembangan filsafat
Islam yang telah mendapat pengaruh dari beberapa filosof Romawi dan Yunani yang
kemudian diserap menjadi beberapa pandangan baru dari kacamata Islam. Hanya
saja sedikit pengaruh-pengaruh baik dari Aristoteles, Plato maupun Sokrates
terakulturasi dalam filsafat ini.
Dalam
pembahasan ini akan diulas mengenai pemikiran dua tokoh filosofi Islam yakni
Al-Kindi dan Al-Ghazali sebagai contoh gambaran konkrit dari filsafat Islam.
a.
Al-Kindi (196-873 M)
Nama lengkap filsuf ini adalah
Ya’kub bin Ishaq bin al-Kindi yang lahir di Kufah dan bertempat tinggal di
Kindah, Yaman. Orangtuanya adalah Gubernur Basrah. Menurut keterangan Ibnu
al-Nadim buku-buku yang ditulisnya itu berkisar 241 buah dalam bidang filsafat,
logika, ilmu hitung, astronomi, kedokteran, ilmu jiwa, politik, optik, musik,
matematika, dan sebagainya. Dalam The Legacy of Islam dapat kita jumpai
informasi yang menjelaskan bahwa buku Al-Kindi tentang optika diterjemahkan ke
dalam bahasa latin dan banyak mempengaruhi Roger Bacon.
Pengetahuan menurut al-Kindi terbagi
menjadi dua, yakni Pertama pengetahuan Illahi atau ilm ila’hiy
(devine science) seperti yang tercantum dalam al-Qur’an, yaitu pengetahuan
langsung yang diperoleh Nabi dari Tuhan. Dasar pengetahuan itu adalah
keyakinan. Kedua, pengetahuan manusiawi atau ilm insaniyy (human
science) atau filsafat yang didasarkan atas pemikiran (ration reason). Filsafat
baginya adalah pengetahuan tentang yang benar atau baths an al-haqq (knowledge
of the truth). Dari sinilah kita bisa melihat persamaan antara filsafat dan
agama. Tujuan agama dan tujuan filsafat adalah sama, yaitu menerangkan apa yang
benar dan apa yang baik. Agama, disamping wahyu, juga menggunakan akal. Adapun
kebenaran pertama, menurut al-Kindi, ialah Tuhan (Allah). Dialah al-haqq
al-awwal, the first Truth. Dengan demikian filsafat membahas soal
Tuhan, agama pun yang menjadi dasarnya Tuhan. Oleh karena itu, bagi al-Kindi,
filsafat yang paling tinggi adalah filsafat tentang Tuhan.
Al-Kindi memandang jiwa sebagai
intisari dari manusia. Para filsuf Islam banyak memperbincangkan hal ini,
karena Al-Qur’an atau Hadist Nabi tidak menjelaskan hakikat jiwa atau ruh. Jiwa
menurut al-Kindi, seperti halnya menurut al-Ghazali dan Ibn Taimiyyah,
mempunyai tiga macam daya, yaitu daya bernafsu, daya pemarah, dan daya
berpikir/berakal. Namun demikian, pendapat al-Kindi berbeda dengan keduanya
ketika ia mengatakan ada tiga macam akal, yaitu: (a) Akal yang bersifat
potensial, (b) Akal yang telah keluar dari sifat potensial menjadi actual, dan
(c) Akal yang telah mencapai tingkat kedua dari aktualitas (Juhaya, 2008:
1986-201).
b.
Al-Ghazali (1059-1111 M)
Abu Hamid Muhammad al-Ghazali lahir
di tahun 1059 M, di Ghazaleh, suatu kota kecil yang terletak di dekat Tus,
Khurasan, kawasan Iran dewasa ini. Al-Ghazali dalam sejarah filsafat Islam
dikenal pada mulanya sebagai syak (skeptis) terhadap gejala-gejalanya. Perasaan
syak ini kelihatannya timbul dalam dirinya dari pelajaran ilmu kalam atau
teologi yang diperoleh dari al-Juwaini. Pada mulanya pengetahuan seperti dalam
ilmu pasti itu dijumpai al-Ghazali dalam hal-hal yang ditangkap dengan panca
indera, tetapi baginya kemudian ternyata bahwa panca indera juga berdusta.
Sebagai upama, ia sebut bayangan (rumah) kelihatannya tak bergerak, tetapi
akhirnya ternyata berpindah tempat. Bintang-bintang di langit kelihatannya
kecil, tetapi perhitungan enyatakan bahwa bintang-bintang iu lebih besar dari
bumi. Karena al-Ghazali tidak percaya pada apanca indera lagi,ia kemudian
meletakkan kepercayaannya pada akal. Tetapi akal juga ternyata tak dapat
dipercayai. “Sewaktu bermimpi”, demikian kata al-Ghazali,”orang melihat hal-hal
yang kebenarannya diyakni betul-betul, tetapi setelah bangun, ia sadar bahwa
apa yang ia lihat benar itu sebetulnya tidaklah benar.” Tidaklah mungkin apa
yang sekarang dirasa benar menurut pendapat akal, nanti kalau kesadaran yang
lebih dalam timbul akan ternyata tidak benar pula, sebagaimana halnya dengan
orang yang telah bangun dan sadar dari tidurnya.
Al-Ghazali mempelajari filsafat,
kelihatannya untuk menyelidiki apakaha pendapat-pendapat yang diajukan
filsuf-filsuf itulah yang merupakan kebenaran. Baginya ternyata bahwa
argument-argumen yang mereka ajukan tidak kuat dan menurut keyakinannnya ada
yang ada yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam.
Tasawuflah yang dapat menghilangan
rasa syak (keragu-raguan) yang lama mengganggu dirinya. Dalam tasawuflah ia
memperoleh keyakinan yang dicari-crinya. Pengetahuan mistiklah, cahaya yang
diturunkan Tuhan ke dalam dirinya, itulah yang membuat al-Ghazali memperoleh
keyakinannya kembali (Juhaya, 2008:202-204) Dengan demikian satu-satunya
pengetahuan yang menimbulkan keyakianan akan kebenarannya bagi al-Ghazali
adalah pengetahuan yang diperoleh secara langsung dari Tuhan dengan tasawuf.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa :
1. Filsafat Yunani Klasikbermula pada abad ke 6 SM hingga abad ke 5 SM atau
sekitar500 – 600 tahun sebelum lahirnya Yesus Kristus di dunia ini. Sebelum
trio filsuf Yunani yang paling terkenal (Socrates, Plato, dan Aristoteles),
telah ada filsuf alam Yunani yang terkenal, yaitu Thales, Anaximandros, dan Anaximenes.
2. Filsafat Abad
Pertengahanbermula pada
abad ke 4 sampai abad ke 15. Filsafat Baratpada pasca kelahiran Yesus Kristus
ini ditandai dengan berpadunya filsafat dan agama. Filsafat pada abad – abad
ini juga disebut sebagai abad kegelapan filsafat. Filsafat Barat mengalami
stagnansi atau keterhambatan.
3. Filsafat Abad Modernberawal dari abad ke 16 hingga abad ke 19. Filsafat
AbadModern didahului oleh pergerakan filsufyang menentang dominasi gereja pada
pertengahan abad ke 16. Lahirlah gerakan Renaissance di Perancis dan Italia,
Enlightment di Inggris, dan Aufklarung di Jerman. Intinya, Eropa berada pada
zaman pencerahan. Filsafat kemudian memisahkan diri dari kungkungan agama versi
gereja. Disini lah berawal istilah sekularisasi atau pemisahan kewenangan
antara keilmuan atau sains (materi) dan agama (non materi).
4. Filsafat Kontemporer dimulai sejak abad ke 20 hingga abad ke 21
(sekarang). Filsuf pada zaman ini melahirkan paham – paham baru, diantaranya
yaitu Fenomenologi, filsafat perempuan atau Feminisme, filsafat hidup atau
eksistensialisme, dan lainnya. Pada abad ini pula, para filsuf kemudian
mengkhususkan diri pada obyek kajian filsafat tertentu.
5.
Filsafat India mengusung keyakinan akan kesatuan fundamental
antara manusia (individu) dengan alam (kosmos). Dengan demikian, tidaklah
mustahil jika filsafat India bisa menjadi solusi bagi krisis spiritual dan alam
saat ini. Menurut filsafat India, harmoni yang terjalin akan mengantarkan
seseorang menjadi waskita (arif bijaksana) terhadap hidup. Tidak terasing dari
kehidupan dunia (alam semesta) dan mampu beramah-tamah dengan semua benda di
sekelilingnya. Bagaikan bersahabat dengan gemericiknya air, kesuburan tanah
yang menumbuhkan segalanya, dan sinar matahari yang menghangatkan semesta raya.
6.
Filsafat Cina, ada 3 hal yang perlu diketahui. Pertama,
filsafat adalah sebuah usaha sadar untuk memformulasikan pandangan-pandangan
dan nilai-nilai sebagai ekspresi dari keyakinan fundamental sekelompok orang. kedua,
filsafat sebagai sebuah aktivitas yang berkelanjutan haruslah dipandang sebagai
sesuatu yang muncul dari aktivitas praktis kehidupan yang berfokus pada
pemecahan masalah tentang pengetahuan yang benar, pemahaman asali, dan
penghargaan yang wajar atas berbagai masalah kehidupan, entah secara individu
ataupun sosial. ketiga adalah lebih berupa konstruksi-konstruksi
teoretis sebagai hasil pemikiran filosofis ataupun kegiatan kultural dari suatu
kelompok orang/masyarakat (Fung Yu-Lian,2007:5) .
7.
Filsafat Islam digolongkan ke dalam filsafat timur karena
lebih dominan sifatnya yang menunjukkan idealisme seperti umumnya
filsafat-filsafat yang muncul di dunia timur, seperti Cina dan India. Filsafat
timur ini yang memiliki aliran idealisme utamanya bercirikan bersifat
spiritual, esensinya adalah dengan berfikir.
B. SARAN
Makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, kami berharap untuk mendapatkan saran
atau masukan dan kritik yag bersifat membangun.
Comments
Post a Comment