MY JOURNEY TO ENTER UNIVERSITY
Hello, it has been about five years after I struggle to enter the university. Yes, I was graduated in 2017.
![]() | |||
| Cheers :) |
Bingung mau mulai dari mana hahaha. Kalo kata petugas SPBU sih "kita mulai dari nol yah :v"
Tahun 2013, seluruh siswa kelas XII diminta oleh staf TU untuk mengisi formulir dan mengumpulkan beberapa berkas pendaftaran SNMPTN dan bidikmisi sekaligus. Kita bisa memilih dua kampus dan tiga jurusan. Nah, waktu itu saya memilih dua kampus teratas yang ada di Makassar, benar, Universitas Hasanuddin (UNHAS) dan Universitas Negeri Makassar (UNM) *jadimalusendiri*😂😂 jurusannya tentu saja yang berbau English-_- Hubungan Internasional dan Sastra Inggris di Unhas dan Pendidikan Bahasa Inggris di UNM menjadi pilihan saya.
Beberapa pekan setelah pendaftaran SNMPTN berakhir, Bapak Kepala Sekolah kami waktu itu, mendapatkan surat pengumuman seleksi dari Kampus Sulawesi Flight dan nama saya ada di dalamnya sebagai siswa yang diterima untuk posisi pramugari. Alhamdulillah. Tapi saya tidak mengambil peluang tersebut. Kenapa? Detailnya akan saya ceritakan di postingan lainnya ✌👀😎
Di waktu lainnya, guru kami memberikan pengumuman bahwa 20 besar siswa kelas XII berhak mendaftarkan diri ke Universitas melalui Jalur SPMB-PTAIN-Prestasi (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru-Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri Jalur Prestasi). Tentu saja, sesuai namanya, kami hanya boleh memilih kampus Agama Islam Negeri dan wajib menempatkan UIN Alauddin Makassar di pilihan pertama dari dua pilihan kampus (pilihan kedua saya UIN Sunan Gunung Djati Bandung). Seperti halnya dengan SNMPTN, ada tiga jurusan yang bisa dipilih. Saya memilih Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Biologi dan Sastra Inggris.
Beberapa pekan setelah pendaftaran SNMPTN berakhir, Bapak Kepala Sekolah kami waktu itu, mendapatkan surat pengumuman seleksi dari Kampus Sulawesi Flight dan nama saya ada di dalamnya sebagai siswa yang diterima untuk posisi pramugari. Alhamdulillah. Tapi saya tidak mengambil peluang tersebut. Kenapa? Detailnya akan saya ceritakan di postingan lainnya ✌👀😎
Di waktu lainnya, guru kami memberikan pengumuman bahwa 20 besar siswa kelas XII berhak mendaftarkan diri ke Universitas melalui Jalur SPMB-PTAIN-Prestasi (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru-Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri Jalur Prestasi). Tentu saja, sesuai namanya, kami hanya boleh memilih kampus Agama Islam Negeri dan wajib menempatkan UIN Alauddin Makassar di pilihan pertama dari dua pilihan kampus (pilihan kedua saya UIN Sunan Gunung Djati Bandung). Seperti halnya dengan SNMPTN, ada tiga jurusan yang bisa dipilih. Saya memilih Pendidikan Bahasa Inggris, Pendidikan Biologi dan Sastra Inggris.
Akhirnya, waktu yang kami tunggu sudah tiba "PENGUMUMAN SNMPTN" and you know what? SAYA TIDAK LULUS! SAYA GAGAL! SAYA TIDAK BISA KULIAH! setidaknya itu yang ada di fikiran saya dulu. Sementara itu, pendaftaran SBNMPTN akan berakhir dalam dua hari dan pengumuman SPMB-PTAIN-Prestasi masih seminggu lagi. Saya benar-benar stress waktu itu di tengah teman-teman yang sedang ramai bersorak gembira melihat pengumuman kelulusan secara online. Saya takut pulang ke rumah dan harus dengan cara apa saya menyampaikan ke orang tua. Saya terlalu terbebani, seperti dunia akan runtuh. Sejak TK, saya selalu berprestasi di sekolah, jadi wajar jika kegagalan seperti ini berhasil membuat saya menangis.
Kemudian, saya putuskan untuk mendaftar SBNMPTN dengan kemugkinan 50:50 akan lulus di SPMB-PTAIN. Tanpa merasa kapok, saya lagi dan lagi memilih Unhas dan UNM-_- namun kali ini saya mencoba memilih satu jurusan yang berbeda. Saya memilih Agroteknologi Unhas (atas saran paman saya, katanya yang penting saya luls dulu nanti urus pindah jurusan-_-), Sastra Inggris Unhas dan Pendidikan Bahasa Inggris UNM.
Satu minggu kemudian, pengumuman SPMB-PTAIN-Prestasi keluar. Saya sengaja tidak ke sekolah waktu itu sebab takut kecewa lagi (ah, saya sepecundang itu rupanya-_-). Namun, tib-tiba guru Bahasa Inggis saya menelfon dan mengatakan kalau saya Lulus dan diterima di UIN Alauddin untuk jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Beliau mengatakan bahwa saya harus mengambil jurusan tersebut karena katanya lumayan susah untuk masuk kesana (ps: anak Beliau yang kebetulan senior jurusan saya di kampus, tidak langsung lulus dalam sekali percobaan). Alhamdulillah, Allah Maha Baik. Saya sudah mengantongi dua kelulusan (Pramugari Sulawesi Flight dan Pendidikan Bahasa Inggris UIN Alauddin Makassar).
Tiba saatnya waktu pengurusan berkas di kampus, saya berangkat ke Makassar. Saya melakukan serangkaian aktivitas: pendaftaran ulang, pengurusan NIM, tes kesehatan hingga pembayaran. Saat masih berada di Makassar, waktu tes SBNMPTN telah tiba. Dengan pemikiran bahwa tidak ada salahnya "iseng" ikut tes mumpung saya sedang di Makassar. Yah, benar saya mengikuti testersebut di Unhas. You know what? di luar ekspektasi, SAYA LULUS! saya diterima di UNHAS untuk jurusan Sastra Inggris.
Alhamdulillah saya diterima di tiga kampus, namun terlepas dari UNHAS kampus terkeren di Makassar, saya tetap saja tidak melanjutkan pendaftaran (padahal plus lulus bidikmisi). Bodoh? ah, kata itu sudah tidak mempan sekarang. My parents support my decision tapi tidak dengan keluarga yang lainnya, mereka mengatai saya bodoh, tidak bisa melihat peluang, membuang kesempatan emas dan lainnya. Lantas kenapa saya memilih UIN Alauddin (sebelumya saya tidak ada niatan kuliah disini) sebab saya melihat jurusannya bukan kampusnya. Sejak kecil, cita-cita saya selalu menjadi guru dan saya tidak mungkin membuang masa depan saya hanya untuk "kepopuleran" semata. Kita harus berpendirian kuat, termasuk dalam cita-cita. If you believe in something, believe it in all ways.
Satu minggu kemudian, pengumuman SPMB-PTAIN-Prestasi keluar. Saya sengaja tidak ke sekolah waktu itu sebab takut kecewa lagi (ah, saya sepecundang itu rupanya-_-). Namun, tib-tiba guru Bahasa Inggis saya menelfon dan mengatakan kalau saya Lulus dan diterima di UIN Alauddin untuk jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Beliau mengatakan bahwa saya harus mengambil jurusan tersebut karena katanya lumayan susah untuk masuk kesana (ps: anak Beliau yang kebetulan senior jurusan saya di kampus, tidak langsung lulus dalam sekali percobaan). Alhamdulillah, Allah Maha Baik. Saya sudah mengantongi dua kelulusan (Pramugari Sulawesi Flight dan Pendidikan Bahasa Inggris UIN Alauddin Makassar).
Tiba saatnya waktu pengurusan berkas di kampus, saya berangkat ke Makassar. Saya melakukan serangkaian aktivitas: pendaftaran ulang, pengurusan NIM, tes kesehatan hingga pembayaran. Saat masih berada di Makassar, waktu tes SBNMPTN telah tiba. Dengan pemikiran bahwa tidak ada salahnya "iseng" ikut tes mumpung saya sedang di Makassar. Yah, benar saya mengikuti testersebut di Unhas. You know what? di luar ekspektasi, SAYA LULUS! saya diterima di UNHAS untuk jurusan Sastra Inggris.
Alhamdulillah saya diterima di tiga kampus, namun terlepas dari UNHAS kampus terkeren di Makassar, saya tetap saja tidak melanjutkan pendaftaran (padahal plus lulus bidikmisi). Bodoh? ah, kata itu sudah tidak mempan sekarang. My parents support my decision tapi tidak dengan keluarga yang lainnya, mereka mengatai saya bodoh, tidak bisa melihat peluang, membuang kesempatan emas dan lainnya. Lantas kenapa saya memilih UIN Alauddin (sebelumya saya tidak ada niatan kuliah disini) sebab saya melihat jurusannya bukan kampusnya. Sejak kecil, cita-cita saya selalu menjadi guru dan saya tidak mungkin membuang masa depan saya hanya untuk "kepopuleran" semata. Kita harus berpendirian kuat, termasuk dalam cita-cita. If you believe in something, believe it in all ways.

Comments
Post a Comment